MEREKA terlihat gagah dengan gaya dan teori yang dihafal matang, dengan konsep yang terlihat begitu matang. Hari demi hari, waktu demi waktu, dari tempat sini ke tempat sana, berbicara tentang teori perubahan, mengepul asap rokok seperti che guevara dengan cerutunya. Namun, semua teori dan gagasan itu hanya berhenti pada apa yang mereka ucapkan, dan yang terjadi hanya pengulangan bentuk kekuasaan, dominasi, dan akhirnya menjadi budaya yang terus berulang di tengah gentingnya dunia pendidikan hari ini.
“kurangi saja teorimu dan perbanyak aksimu.”
Pertanyaannya, Apakah kedua hal ini harus selalu diletakkan sebagai sesuatu yang berlawanan?
Freire mengatkan “perbedaan yang harus dibuat adalah antara teoritisi dan verbalism. yang teoritisi nantinya sudah tentu akan menjadi praktisi, yang menjadi lawan dari praktik bukanlah teori, tapi pemikiran-pemikiran kosong dan imitatif.” Dari pandangan freire ini, saya memahami bahwa persoalannya bukan terletak pada teori itu sendiri, melainkan ketika teori hanya menjadi sesuatu yang dihafalkan, diucapkan dan digunakan sebagai tampilan intelektual tanpa pemahaman kritis serta tindakan yang nyata. Dengan demikian, seseorang dapat terlihat begitu menguasai teori, tetapi ketika pengetahuan tersebut hanya menghasilkan pengulangan istilah, gagasan, atau pemikiran orang lain tanpa benar-benar memahami dan menghubungkannya dengan realitas, maka disitulah Verbalisme menjadi persoalan.
Pemahaman terhadap cara pandang freire ini, menjelaskan bahwa salah satu fenomena yang berulang di dunia pendidikan adalah munculnya anggapan bahwa teori harus dikurangi yang harus diperbanyak adalah praktik-praktik nyata. Padahal, persoalan yang harus dikritisi bukanlah teori, melainkan pemikiran kosong imitatif yang berhenti pada kata-kata. Ketika individu hanya mampu berbicara mengenai perubahan tanpa memahami realitas yang hendak diubah, maka tindakan yang muncul pun beresiko hanya menjadi pengulangan dari gagasan yang telah ada. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bukan benar-benar menjadi teoritisi yang mampu membawa pemikirannya menuju praktik, tetapi justru terjebak dalam verbalisme.
Dengan hal ini, saya melihat bahwa teori dan praktik tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertolak belakang. freire justru menolak pemisahan keduanya, terutama dalam hal pendidikan, karena praktik pendidikan selalu membutuhkan landasan pemikiran dan teori. Teori membantu seseorang memahami realitas secara kritis, sementara praktik menjadi menjadi ruang untuk menerjemahkan, menguji dan merefleksikan kembali pemahaman tersebut. Maka, persoalannya bukan tentang seberapa banyak teori yang dimiliki atau seberapa banyak aksi yang dilakukan, tetapi tentang apakah pengetahuan yang dimiliki benar-benar menghasilkan kesadaran dan tindakan yang bermakna.
Tulisan ini saya kemukakan dari buku paulo freire, politik pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan pembebasan. Refleksi terhadap kondisi dunia pendidikan hari ini, dan mempertanyakan kembali posisi seorang intelektual, yang tidak hanya berhenti pada penguasaan teori, tanpa pemaknaan serta pemecahan masalah terhadap realitas pendidikan hari ini. Karena, sudah semestinya kaum terpelajar menjadi pembuat sejarah, bukan hanya mengulang sejarah.
Penulis: Dzikran Tuliabu, Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar









